Tampilkan postingan dengan label info anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info anak. Tampilkan semua postingan

23 April 2011

Sehatkah Susu Cokelat bagi Anak?




(kasrina041172.blogspot.com)
: Anak-anak umumnya senang dengan susu rasa cokelat. Mereka lebih memilih susu dengan rasa dibandingkan susu plain (tanpa rasa). Lalu sehatkan susu cokelat bagi Anak Anda?

Susu cokelat memang lebih tinggi kandungan gula dan kalori yang tidak perlu dibandingkan susu plain. Namun semua susu, baik yang rasa atau tidak sudah dikemas dengan kandungan nutrisi. Seiring perkembangan zaman, susu cokelat rendah lemak pun sudah bermunculan.

Untuk satu cangkir susu rendah lemak mengandung sekitar 100 kalori dan 13 gram gula (dalam bentuk laktosa, gula yang ditemukan secara alami dalam susu) dan sekitar 300 miligram kalsium (sekitar 25 persen kebutuhan harian anak-anak) serta vitamin D, vitamin A, vitamin B, dan mineral seperti kalium dan fosfor.

Ukuran yang sama juga ada pada susu cokelat rendah lemak yang mengandung sekitar 160 kalori dan 25 gram gula (jumlah meningkat berasal dari tambahan gula), dengan kadar vitamin dan mineral yang sebanding.

Sebuah studi dari Emory University menemukan penambahkan jumlah gula bagi 20 persen remaja dalam kalori harian. "Mereka dengan asupan gula tertinggi, rendah tingkat kolesterol "baik" HDL dan tingginya tingkat kolesterol "jahat" LDL dan trigliserida, dan berisiko tinggi terhadap penyakit jantung dan diabetes di kemudian hari. Banyak asupan gula bagi remaja yang berasal dari minuman manis," tulis sang peneliti.

Untuk susu cokelat ini, pakar gizi Joy Bauer juga tidak menyarankan anak-anak minum susu cokelat di sekolah-sekolah. Alasannya, tambahan gula memberikan tambahan kalori yang tidak perlu ketika anak-anak berjuang dengan berat badan mereka dan makanan yang tidak sehat.

Bauer mengatakan yang terbaik bagi anak-anak dengan mendorongnya untuk minum susu plain 1 persen atau susu bebas lemak saat makan siang di sekolah mereka. Jika anak Anda hanya akan minum susu dengan rasa, Bauer mengatakan hendaknya sehari satu porsi yang Anda buat menurut versi sehat Anda.

"Di rumah, orangtua dapat mengontrol jenis susu yang dituangkan dan jumlah sirup cokelat atau cokelat manis yang diaduk ke dalamnya," katanya. Hanya campuran dua sendok teh sirup cokelat atau bubuk cokelat manis ke dalam susu bebas lemak, yang hanya menambah sekitar 7 gram tambahan gula dan 35 kalori.

Satu hal yang disepakat para ahli, anak-anak perlu mendapatkan cukup kalsium (800 miligram per hari untuk usia 4 sampai 8 tahun; 1.300 miligram per hari untuk usia 9-18 tahun, 800). Susu seringkali merupakan kontributor kalsium bagi diet anak-anak. Untuk mencapai jumlah tersebut, anak-anak membutuhkan beberapa porsi makanan yang kaya kalsium sehari, termasuk susu serta yogurt rendah lemak, keju, dan sayuran hijau berdaun seperti bayam dan brokoli. "Jika Anda khawatir tentang asupan kalsium anak Anda, tanyakan dokter anak Anda tentang mengambil suplemen".(everydayhealth/MEL)

Bermain Warna dengan Emosi Anak



 Warna dapat membantu merangsang anak-anak terutama bagi mereka yang memiliki gangguan perhatian. Dengan warna, anak-anak belajar untuk mengekspresikan diri mereka. Dengan warna pula mereka menjadi lebih percaya diri dan lebih kreativitas dan ekspresif. Warna dapat mengekspresikan berbagai emosi bagi anak-anak yang sulit untuk mengekspresikan.

'Warnai hidup Anda' adalah teknik yang digunakan oleh psikolog dan psikoterapis untuk membantu anak-anak membedakan dan mengekspresikan berbagai emosi mereka di atas kertas. Teknik ini membantu untuk mengetahui apakah anak Anda senang, sedih, gembira, takut, atau bahkan marah.

Psikolog memberikan sekotak krayon berwarna dasar dengan kertas untuk anak-anak dan meminta mereka untuk menggambar dan mewarnai gambar. Anak diminta untuk memilih warna untuk menunjukkan perasaan tertentu.

Jika anak memilih merah, oranye, dan abu-abu, maka ia sedang marah, bahagia, dan kesepian. Suasana anak dapat diukur oleh warna-warna yang dipilihnya di atas kertas dan intensitas yang digunakan anak Anda.

Anak-anak bebas memilih warna-warna yang mereka sukai, memaksa mereka memilih warna tertentu dapat menyebabkan mereka menjadi pemberontak. Dengan warna, anak-anak mengembangkan harga diri dan pengakuan diri.

Anak-anak lebih tertarik pada warna-warna seperti kuning, merah, biru daripada warna seperti hitam, abu-abu dan coklat. Warna-warna cerah membuat mereka senang dan mereka mmengambil mainan yang berwarna cerah dan mengekspresikan kegembiraan mereka ketika bermain dengan mereka.

Departemen Pengembangan Anak di California State University Fullerton melakukan penelitian terhadap warna dan emosional anak-anak.

Dalam studi tersebut, anak-anak dari kedua jenis kelamin, usia antara lima dan enam tahun diminta untuk memilih warna favorit mereka dari sembilan warna yang diberikan dan ditunjukkan secara acak. Mereka menanyakan pertanyaan "Bagaimana warna buat Anda" dan 69% anak-anak memilih warna-warna cerah seperti pink, biru, merah dan mengungkapkan kebahagiaan dan kegembiraan.

Beberapa memilih hitam, abu-abu, dan coklat yang menunjukkan emosi negatif seperti kesedihan. Anak-anak menunjukkan kecenderungan untuk memilih warna cerah dan tidak suka warna gelap.

Seiring perkembangan usia, gadis-gadis cenderung memilih warna yang lebih terang menunjukkan emosi yang bahagia dan kegembiraan seperti pink, merah, kuning yang tercermin dalam berpakaian dan cara mereka menggunakan warna ini untuk menghiasi kamar mereka. Sementara anak laki-laki mengambil warna-warna seperti beige, biru, coklat, dan hitam untuk mengekspresikan emosi mereka.(LifeMojo/MEL)

"Um.." Bantu Balita Belajar Bahasa




: Jeda kata tak selamanya buruk. Orangtua yang tidak lancar mengatakan sesuatu biasanya ada jeda kata 'Um' (seperti menggumam) atau 'Uh' (dibaca: Eh) serta jeda lainnya. Namun ini bermanfaat bagi balita. Omongan ragu-ragu Um dan Uh tersebut dapat membantu mereka belajar bahasa lebih baik.

Peneliti dari University of Rochester mencontohkan orangtua yang sedang mengajar balita tentang nama-nama hewan. Jika orangtua berkata soal badak, seperti "Lihatlah, uh, uh, badak," dapat menjadi sinyal kepada anak untuk mengajarkan sesuatu yang baru, sehingga mereka harus memperhatikan.

Penelitian dilakukan oleh ilmuwan kognitif Richard Aslin, Celeste Kidd, dan Katherine White dari University of Rochester.

Untuk penelitian ini, mereka memeriksa tiga kelompok balita antara usia 18 dan 30 bulan. Anak-anak diminta untuk duduk di pangkuan orangtua mereka di depan monitor dengan alat pelacakan.

Dua gambar muncul di layar, salah satunya benda yang akrab (seperti bola) dan yang satu memiliki gambar yang dibuat-buat (yang diberi nama yang asing). Sebuah rekaman suara berbicara tentang objek. Para peneliti menemukan bahwa ketika suara tersandung dan berkata, "Lihatlah, um..." hampir 70 persen anak melihat gambar yang dibuat lebih sering daripada gambar yang sudah akrab.

Peneliti mengatakan efeknya hanya signifikan pada anak lebih dari 2 tahun. Para peneliti beralasan bahwa anak-anak yang masih kecil belum belajar bahwa ketidaklancaran cenderung mendahului kata-kata baru atau asing. Begitu juga dengan anak usia 2 dan 3 tahun yang biasanya pada tahap perkembangan di mana mereka dapat membentuk kalimat kecil dan memiliki kosakata dari beberapa ratus kata. Para peneliti mengatakan ini adalah berita baik bagi orangtua yang mengira mereka contoh buruk bagi anak-anak mereka.

"Kami tidak menganjurkan bahwa orangtua menambah jeda mereka, tapi saya pikir itu bagus bagi mereka untuk tahu bahwa menggunakan verbal jeda adalah oke dan informatif," kata Celeste Kidd.(Ivanhoe/MEL)